UINside– Di tengah persaingan produk rumah tangga pabrikan dan naiknya harga bahan baku akibat situasi global, usaha sabun cuci piring lokal asal Gampong Baloy, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, tetap mampu bertahan dan berkembang.
Produk tersebut bernama Sabci atau Sabun Cuci Piring, yang diproduksi oleh seorang pelaku usaha lokal, Ibu Khuzaima. Usaha rumahan itu bermula dari keinginan masyarakat sekitar untuk menggunakan produk lokal berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.
“Masyarakat di sini cukup bangga menggunakan produk buatan daerah sendiri, khususnya produk lokal Aceh. Dari situ saya mulai mencoba membuat Sabci,” ujar Ibu Khuzaima saat ditemui, Senin (11/5/2026).
Sebelum dipasarkan, Sabci terlebih dahulu melalui proses penelitian dan pengujian selama enam bulan. Produk tersebut juga telah mendapatkan izin edar setelah melewati uji kesehatan sehingga aman digunakan masyarakat.
Sabci dipasarkan dalam dua ukuran kemasan, yakni 450 mililiter dengan harga Rp7.500 dan kemasan 1 kilogram seharga Rp11.500. Harga tersebut dinilai lebih ekonomis dibandingkan sejumlah produk sejenis di pasaran.
Dalam proses produksinya, Sabci menggunakan campuran bahan baku utama, garam, dan biji pewangi. Namun, usaha tersebut turut terdampak oleh kenaikan harga bahan baku impor yang terjadi akibat konflik geopolitik internasional.
Ibu Khuzaima mengatakan harga bahan baku yang sebelumnya berada di kisaran Rp35.000 kini meningkat menjadi Rp55.000. Kenaikan tersebut dinilai cukup memengaruhi biaya produksi usaha yang dijalankannya.
“Kenaikan harga bahan baku sekarang cukup terasa. Dampaknya bahkan lebih berat dibandingkan saat kami menghadapi banjir,” keluh ibuk Khuzaima.
Meski demikian, pihaknya tetap berupaya mempertahankan kualitas produk dan tidak menaikkan harga jual secara signifikan agar tetap terjangkau bagi konsumen.
Keberadaan Sabci juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Saat ini, usaha tersebut melibatkan enam hingga delapan tenaga kerja lokal dalam proses produksi dan pengemasan.
Dalam sehari, Sabci mampu menjual sekitar 80kg sabun, tergantung permintaan konsumen. Penjualan yang stabil membuat usaha rumahan tersebut mampu menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulan.
Melihat respons masyarakat yang terus meningkat, Ibu Khuzaima berharap Sabci dapat memperluas jangkauan pemasaran ke berbagai daerah di Aceh serta semakin dikenal sebagai produk lokal asal Lhokseumawe.
Kehadiran Sabci menjadi bukti bahwa usaha kecil berbasis masyarakat tetap memiliki peluang untuk berkembang di tengah tantangan ekonomi dan persaingan pasar, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemberdayaan tenaga kerja sekitar.





