UINSide — Kompleks pemakaman bersejarah peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, kembali menjadi tujuan ziarah. Pada Sabtu, 04/06/2026, situs monumental ini dikunjungi rombongan 5 mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam KPI UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Kunjungan ini bukan sekadar ziarah, melainkan juga upaya meneliti dan merefleksikan kejayaan Islam di Nusantara.
Fokus utama mereka adalah makam Sultanah Nahrasiyah, pemimpin perempuan pertama di Asia Tenggara yang wafat pada tahun 832 Hijriah atau 1428 Masehi. Makam ini merupakan mahakarya seni Islam. Seluruh bagian nisan dan jiratnya terbuat dari batu pualam utuh yang diperkirakan berasal dari Gujarat, India. Permukaannya dipenuhi ukiran kaligrafi yang sangat halus dan detail.
Hal paling monumental yang memukau para mahasiswa adalah adanya ukiran utuh Surah Yasin dan Ayat Kursi pada dinding nisan penutup makam.
“Melihat langsung guratan kaligrafi Surat Yasin di marmer ini bikin kagum sekaligus merinding. Apalagi kampus kami menyandang nama besar beliau. Ini bukan sekadar nisan, tapi bukti otentik betapa tingginya peradaban, cita rasa seni, dan penghormatan terhadap kepemimpinan perempuan di era Samudera Pasai,”ujar Tyzhar Akmaluddin, koordinator rombongan.
Menurut Tyzhar, keberadaan ukiran Surat Yasin yang sedemikian detail pada media batu abad ke-15 menunjukkan betapa majunya tingkat literasi dan religiusitas masyarakat Pasai saat itu.
“Sayang kalau generasi muda menganggap situs ini hanya tumpukan batu kuno. Padahal di sini ada pesan spiritual dan intelektual yang dipahatkan. Ini warisan yang harus kita jaga dengan bangga,”tambahnya.
Suasana di kompleks makam Sultanah Nahrasiyah dan Sultan Malikussaleh yang letaknya tak jauh dari sana terasa tenang. Pepohonan rindang di sekitar membuat prosesi ziarah dan doa bersama berlangsung khusyuk.
Setelah menelusuri situs, para mahasiswa berdiskusi tentang strategi mengenalkan keindahan kaligrafi makam Sultanah Nahrasiyah ke khalayak luas melalui media sosial.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa sejarah Aceh, khususnya melalui guratan doa di nisan Sultanah Nahrasiyah, akan selalu memancarkan pesona spiritualitas yang tak lekang oleh waktu.
Penulis: Rauzatul Munanza
Editor: Salsabella Rizki
Fotografer: Delia Ridha Amanda , Raushan Fikri
Redaktur: Ralya Dara Padisa





