Kantin Syeh: Ruang Kuliah Kedua Bagi Mahasiswa FUAD UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Sabtu 27/06/2026, Sesurga mana lagi diskusi sambil menikmati secangkir kopi? Setiap tegukan adalah harapan, setiap kata adalah kekuatan. Semuanya bersenyawa menjadi satu di atas meja-meja sederhana yang justru melahirkan banyak gagasan. Mungkin benar, bumi adalah surga sesungguhnya. Sebab, di setiap sudutnya selalu ada ruang untuk belajar, berbagi, dan bertumbuh.

Di lingkungan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, terdapat sebuah tempat yang bagi sebagian besar mahasiswa memiliki makna lebih dari sekadar kantin, yakni Kantin Syeh. Berlokasi di area fakultas, kantin ini setiap hari menjadi persinggahan mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan, terutama pada waktu jeda perkuliahan.

Bacaan Lainnya

Bagi sebagian orang, kantin hanyalah tempat mengisi perut yang kosong. Namun, bagi mahasiswa FUAD, Kantin Syeh telah menjelma menjadi ruang kuliah kedua. Di sanalah ide, kritik, gagasan, dan argumentasi bertemu. Diskusi tentang tugas kuliah, organisasi, isu sosial, hingga persoalan bangsa sering kali lahir di sela-sela secangkir kopi dan canda sederhana.

Fenomena seperti ini bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah. Sejak masa Kekaisaran Ottoman hingga menjelang Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis, kedai kopi dikenal sebagai ruang publik tempat berbagai kalangan bertemu tanpa sekat sosial. Para cendekiawan, pedagang, aktivis, hingga masyarakat biasa berdiskusi mengenai ilmu pengetahuan, politik, dan perubahan sosial. Tidak berlebihan jika kedai kopi kerap disebut sebagai salah satu ruang yang turut melahirkan berbagai gerakan perubahan.

Semangat yang sama seharusnya terus hidup di Kantin Syeh. Tempat ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai program studi dalam satu ruang yang sama. Tidak ada batas antara senior dan junior, bahkan dosen pun dapat berbincang santai bersama mahasiswa tanpa adanya jarak formal sebagaimana di ruang kelas. Suasana inilah yang membuat proses belajar tidak berhenti ketika jam kuliah selesai.

Lebih dari itu, Kantin Syeh menjadi ruang tumbuhnya budaya literasi, berpikir kritis, dan pendidikan demokrasi. Di sinilah mahasiswa belajar menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan pandangan, serta melatih kemampuan berargumentasi secara sehat. Candaan, diskusi ringan, hingga perdebatan intelektual hadir dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Syeh, yang telah lama menjadi penjaga kantin, juga menjadi bagian penting dari identitas tempat ini. Keramahan, lelucon khas, serta suasana nyaman yang ia hadirkan membuat Kantin Syeh memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kantin-kantin lain di lingkungan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Banyak mahasiswa merasa bahwa mereka bukan sekadar menjadi pelanggan, tetapi bagian dari sebuah keluarga kecil di lingkungan kampus.

Oleh karena itu, sudah semestinya Kantin Syeh tidak hanya dipandang sebagai tempat transaksi jual beli makanan dan minuman. Lebih dari itu, kantin ini merupakan ruang publik kampus yang memiliki nilai edukatif dan sosial. Di tempat sederhana inilah proses pembentukan karakter mahasiswa berlangsung secara alami melalui dialog, kebersamaan, dan pertukaran gagasan.

Pada akhirnya, ruang belajar tidak selalu dibatasi oleh empat dinding kelas. Terkadang, secangkir kopi, meja sederhana, dan percakapan yang jujur justru mampu menghadirkan pelajaran yang tak pernah tertulis di dalam silabus. Dan bagi banyak mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, tempat itu bernama Kantin Syeh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *