LHOKSEUMAWE, Sabtu 27 Juni 2026, Sudah delapan bulan berlalu sejak bencana hidrometeorologi melanda wilayah Aceh pada 27 November 2025 lalu. Dampak kerusakan fisik akibat banjir bandang dan tanah longsor tersebut mungkin mulai membaik, namun luka psikologis yang ditinggalkan bagi para korban tentu tidak bisa hilang begitu cepat. Salah satu cerita yang paling menyita perhatian adalah keteguhan hati Sausan, seorang bocah asal Gampong Matang Maneh, Aceh Utara.
Di usianya yang masih sangat muda, Sausan harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan tiga orang tercintanya sekaligus dalam satu malam: ibu, abang, dan neneknya. Bencana malam itu benar-benar mengubah hidupnya dalam sekejap. Pertemuan hangat keluarga di meja makan berubah menjadi tragedi ketika air bah tiba-tiba datang menerjang rumah mereka dengan sangat cepat.
Sausan sempat terlepas dari genggaman erat ayahnya dan terbawa arus yang sangat jauh. Meski ia berhasil selamat, sang ibu, abang, dan neneknya tidak dapat terselamatkan. Kehilangan besar ini menjadi hantaman mental yang sangat berat. Kesedihan itu begitu terasa saat Sausan mengungkapkan rasa rindunya kepada teman sejawatnya, “Kamu enak masih ada mama, masih bisa dipeluk, dimasakin… sedangkan aku enggak.”
Saat ini, Sausan tinggal bersama sang ayah, serta kakak, abang, dan adiknya yang selamat di Gampong Matang Maneh, Aceh Utara. Menariknya, meski trauma malam itu begitu nyata, Sausan yang kini duduk di bangku kelas 4 SD menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia memilih untuk tetap melangkah maju dan kembali bersekolah. Pilihan ini diambil demi menghormati memori dan impian mendiang keluarganya yang ingin melihatnya sukses.
Langkah kecil Sausan ini menjadi contoh resiliensi atau ketangguhan yang luar biasa di tengah pascabencana. Semangatnya untuk melanjutkan hidup dan menempuh pendidikan kini memicu simpati sekaligus inspirasi bagi warga sekitar, guru, dan para relawan. Kisah Sausan menjadi pengingat keras bagi kita semua mengenai dampak nyata bencana terhadap psikologis anak-anak, sekaligus mengajarkan bahwa sekeras apa pun ujian menghantam, harapan masa depan harus tetap dijaga.
Penulis : Ralya Dara Padisa
Editor : Salsabela Rizki
