UINSide.id, LHOKSEUMAWE – Suasana akademik di UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe (UIN SUNA) hari ini, Senin (14/9/2026), terasa berbeda. Kampus tersebut menjadi ruang pertemuan akademisi dan praktisi dari Indonesia dan Malaysia melalui Internasional Seminar 2026 yang digelar di Aula Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Seminar yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai ini mempertemukan sejumlah pembicara dari dua negara. Kehadiran para akademisi dan praktisi tersebut membawa perbincangan tentang dunia pendidikan tinggi keluar dari batas kampus dan negara, menuju ruang dialog yang lebih luas.
Mengusung semangat “Fostering excellence in academic communication, cross-cultural dialogue, and collaborative research to advance global higher education”, seminar ini menempatkan komunikasi akademik, dialog lintas budaya, serta kolaborasi penelitian sebagai bagian penting dalam mendorong kemajuan pendidikan tinggi di tingkat global.
Dari Indonesia, Prof. Dr. Danial, M.Ag., selaku Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, hadir memberikan opening remarks. Kehadiran pimpinan kampus dalam kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membuka ruang akademik yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan internal kampus, tetapi juga membangun jejaring dengan institusi dan insan akademik dari negara lain.
Sementara itu, dari Malaysia hadir Norazirawati Ahmad dari Universiti Islam Selangor. Kehadirannya menjadi salah satu representasi akademisi Malaysia dalam forum yang mempertemukan perspektif Indonesia dan Malaysia dalam satu ruang diskusi.
Tak hanya akademisi, seminar internasional ini juga menghadirkan Mohammad Sudirman bin Mohd Tahir, seorang Media Practitioners sekaligus PhD Candidate di Universiti Kebangsaan Malaysia. Kehadiran praktisi media dalam forum akademik memberi warna tersendiri, terutama dalam melihat komunikasi dan perkembangan pendidikan tinggi dari perspektif yang bersinggungan langsung dengan dunia media.
Pembicara lainnya, Farah Wahida Binti Othman dari Universiti Islam Selangor, turut hadir dalam seminar tersebut. Bersama para pembicara lainnya, Farah menjadi bagian dari pertemuan lintas negara yang mempertemukan pengalaman dan sudut pandang dari lingkungan akademik Malaysia dengan civitas akademika UIN SUNA.
Dari UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, hadir Sufri Eka Bhakti, Ph.D. sebagai salah satu pembicara. Kehadiran Sufri bersama narasumber dari Malaysia memperlihatkan bagaimana kampus di Aceh dapat menjadi titik temu bagi pertukaran gagasan antara Indonesia dan Malaysia.
Pertemuan Indonesia-Malaysia dalam seminar ini bukan sekadar menghadirkan nama-nama dari dua negara. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan cara pandang yang berbeda dalam melihat komunikasi akademik, budaya, penelitian, hingga arah pendidikan tinggi di tengah lingkungan global yang terus berubah.
Indonesia dan Malaysia sendiri memiliki kedekatan dalam banyak aspek, mulai dari bahasa, sejarah, budaya, hingga hubungan pendidikan. Kedekatan tersebut membuat ruang dialog seperti seminar internasional menjadi menarik karena perbedaan yang ada dapat menjadi bahan pertukaran pengalaman, bukan sekadar pembatas.
Bagi UIN SUNA, kegiatan ini juga dapat menjadi momentum untuk memperluas hubungan akademik dan membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi di luar Indonesia. Terlebih, tema yang diangkat menekankan pentingnya collaborative research atau penelitian kolaboratif sebagai salah satu cara untuk mendorong kualitas pendidikan tinggi agar semakin terhubung dengan perkembangan global.
Seminar ini sekaligus menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai pendidikan tinggi tidak harus berlangsung di ruang yang jauh dari masyarakat. Ketika akademisi, praktisi, dan mahasiswa bertemu dengan latar belakang yang berbeda, gagasan dapat bergerak lebih luas dan membuka kemungkinan kerja sama baru.
Dengan hadirnya perwakilan dari Indonesia dan Malaysia, Internasional Seminar 2026 di UIN SUNA Lhokseumawe menjadi salah satu ruang yang mempertemukan dua perspektif dalam satu panggung akademik. Dari Lhokseumawe, percakapan tentang pendidikan tinggi, komunikasi lintas budaya, dan kolaborasi penelitian pun mengambil tempat dalam perbincangan yang lebih global.
